Lets Saving

sang pemimpi yang tak henti-hentinya bermimpi

April 24, 2013 11:20 am

Lost in Gunung Sitoli

Ini adalah kali kedua gue ke Nias, dan keduanya adalah untuk urusan kerjaan. Tapi tentu saja, yang akan diceritain di sini adalah “kesibukan” di luar urusan pekerjaan. 

Setelah 2 setengah hari keliling pulau Nias, dari pinggir pantai sampai ke bukit-bukit, akhirnya sore itu sekitar jam 3 rombongan kita kembali ke penginapan di daerah paling urban di Pulau Nias, Gunung Sitoli. Officially, kerjaan udah selesai. Tapi kita perlu menginap dulu satu malam sebelum besok terbang ke Medan dengan pesawat paling pagi. 

Dari dateng di penginapan sampai dengan batas waktu check in di bandara besok, gue hitung-itung masih ada waktu sekitar 14 jam. Gue bertekad, nggak akan membiarkan waktu 14 jam yang tersedia ini mubadzir dengan cuma berdiam diri di kamar. 

Singkatnya, setelah mandi biar nggak jelek-jelek amat, gue pun meninggalkan sarang dan mulai menapakkan kaki di jalan raya. Niat gue adalah ke pusat kota, nggak tau nyari apaan, seenggaknya mau lihat peradaban. 

Rencana awalnya, gue mau jalan kaki menuju pusat kota, sampai akhirnya ada penanda jarak: Pusat Kota Gunung Sitoli masih 5 kilometer lagi! Ah bisa turun 5 kilogram juga deh ini kalo maksain terus jalan kaki. Oke, plan berubah: naik becak motor aja. 

Gue (G): *naik ke becak yang udah berhenti*
Abang Becak Motor (ABM): *bertanya dalam bahasa nias*
G: *bengong* ….. mmmm gimana bang? (untuk menunjukkan bahwa gue nggak bisa bahasa Nias *duh)
ABM: ke mana bang?
G: Pusat kota!

Ngeeeennnggggg…. Akhirnya si ABM menjalankan kendaraannya. Sekitar 10 menit, sampelah kita di pusat kota.

ABM: turun di mana bang?
G: Hmmmmm.. mana ya?

Tanpa dikomando, si ABM tetep ngejalanin becak motornya, ngelilingin pusat kota. FYI, pusat kotanya itu jalan satu arah yang ngebentuk segi empat gitu. Jadilah kita muter satu lap. Si ABM juga nggak ada gelagat mau nurunin gue di mana gitu. Akhirnya gue refleks bilang “udah sini aja bang”. Si becak motor berhenti, gue turun, dan terjadilah adegan transaksi.

G: berapa bang?
ABM: hmmmm.. terserah abang saja..

Terserah gue? Ciyus lo bang??? Kalo gue jahat sih udah gue kasih permen 2 biji hasil. Tapi nggak deh, takut disumpahin. Akhirnya gue kasih 15 ribu buat si abang. Urusan selesai.

Eh belum selesai ding. Gue masih nggak tau mau ke mana. Hmmm.. Pada kunjungan yang pertama dulu, gue menemukan penjual durian dengan harga super maknyus: cuma lima ribu perak per buah! Rasanya pun legbitttt! Pedagang durian itu berderet di lapangan merdeka (semacam alun-alun kota). Tepat di pusat kota banget. AKhirnya gue melangkahkan kaki ke arah lapangan merdeka.

Tapi apa yang terjadi pemirsahhh?? Di lapangan merdeka ternyata enggak gue temuin satu orangp un pedagang durian. Ke mana mereka? Kena gusur Satpol PP? Atau lapaknya direlokasi ke mal terdekat? Atau banting setir jadi pedagang boneka angry birds? Atau sekarang berjualan online di toko gabus dot kom?

Iseng-iseng, gue tanya seseorang yang cukup meyakinkan.
Bukan orang ini tentunya

G: Bang, pedagang duriannya nggak ada?
Bukan Mas-mas Galau (BMG): oooo itu sedang tidak musimnya
G: ooh gitu ya? Emang kapan musimnya?
BMG: Ya barangkali nanti bulan enam atau tujuh lah

Yah, kecewa deh. Dengan gontai gue terus berjalan. Tapi belum jauh, langkah gontai gue pun terhenti, berganti dengan derap langkah penuh semangat. Karena gue melihat pengobat kekecewaan: deretan penjual kelapa muda!

 

Sebatok kelapa muda ternyata cukup menyegarkan di sore yang terik itu. Harganya pun cihui, cuma 3 ribu per biji! Kalo hadirin sekalian ke Nias, cukup recommended buat mampir di sini. Menikmati segarnya air kelapa sambil merenung di trotoar. Kali aja ada yang iba dan kemudian menghentikan mobilnya dan mengangkat anda sebagai anaknya.

Urusan perkelapaan selesai, gue kembali menyusuri jalanan pusat kota Gunungsitoli dan masuk ke dalam sebuah toko oleh-oleh (yang kayanya adalah satu-satunya toko oleh-oleh). Tapi oleh-oleh khas Nias ini jahat-jahat! Rata-rata dibuat dari bagian tubuh penyu. Saking jahatnya gue sampe nggak tega buat motoin. Akhirnya, daripada beli oleh-oleh jahat, gue memilih untuk beli lempok durian alias dodol durian. (Ini sih bukan menghindari berbuat jahat, tapi emang udah ngidam durian).

Next, gue kembali mengayunkan langkah, sampai tiba di pasar ikan! Yeah, pasar ikan adalah salah satu tempat favorit gue tiap berwisata ke pesisir. Karena di sana gue bisa memilih ikan yang segar buat disantap. Biasanya di beberapa tujuan wisata, di dekat pasar ikan ada warung yang bisa dimintai tolong masakin ikan, sekaligus nyediain nasi dan sambel-sambelannya.

Sampe matahari terbenam, gue masih asik mengamati suasana pasar ikan. Sampe akhirnya gue memutuskan untuk membeli seekor ikan barakuda. Pertimbangannya simpel, ukurannya pas buat makan sendirian.


tuh ikan barakudanya, yang panjang-panjang

G: Bu, bisa sekalian dimasak?
Ibu Ikan (II): Bisa dek!
G: ini berapa bu? *sambil memegang seekor ikan pilihan gue*
II: Sekilo 20 ribu

Oke, gue ambil ikan itu, II pun langsung menimbang. Ternyata beratnya setengah kilo. Jadi total 10 ribu saja. Si II motong-motong ikan yang panjang itu jadi beberapa bagian, kemudian masukin ke plastik. 

G: *menerima kantong plastik berisi ikan* Bu, bisa dimasak kan?
II: Ya bisa!
G: Minta tolong sekalian bu
II: Tolong apa?
G: Dimasak bu, bisa kan?
II: Bisa lah dimasak! Digoreng enak!
G: Dimasak sekalian di sini maksudnya bu..
II: Mana bisa? Pake apa?!
G: *sigh* Kalo sekitar sini ada tempat buat masakin di mana bu?
II: Tidak ada!

Duh, selesai deh gue. Terus buat apa gue beli ikan kalo nggak bisa dimasak?? Mana setau gue ikan barakuda nggak enak dibikin sashimi lagi. Masa dibuang?? Ya Allah, maafkan Baim ya Allah yang telah menyiakan rizkimu ini… (Padahal Baimnya lagi ngeband sama Aryo, Nugie dan Pongki)

Oke, daripada mubazir, ikannya akan gue kasih tukang becak motor aja nanti di perjalanan balik ke penginapan. Mungkin di rumah si abang ada istrinya yang bisa masakin si ikan buat dia dan keluarga. Terus kalo abangnya jomblo gimana? Ya bisa dimasak buat nongkrong bersama teman-teman lah.

Gue sudah memantapkan niat buat ngasihin ikan itu, sampe akhirnya gue menjumpai sebuah kedai es campur yang udah tutup di samping jembatan. Seorang nenek di warung itu lagi memotong-motong buah nanas. Dengan sedikit kepo, gue intip ke dalam warung, oh ada kompor. Akhirnya gue dateng dan menemui si nenek dan meminta izin. “Permisi bu, boleh numpang masak?”

“Boleh dek, tapi masak sendiri tak apa kan? Aku masih banyak yang harus dipotong”, jawab si nenek. Oke siap! Gue akan mengolah ikan barakuda ala chef bolang!

Lagi di tengah-tengah masak, seorang anak kira-kira umur 12 tahun masuk ke kedai. Cucu si nenek. “Apa itu?” tanyanya pada si nenek melihat gue memasak. “Sudahlah, jangan kau ganggu itu si abang mau makan. Laparnya dia”, jawab si nenek. “Akupun lapar nek”, si bocah nggak mau kalah. Gue beriktikad baik dengan mengajaknya makan bareng. Tapi si nenek justru mencegah. “Sudahlah, kau makan saja. Gampanglah itu”.

Tadaaaaa! Barakuda goreng darurat gue pun matang! Si nenek juga bahkan nyediain nasi putih dan beberapa cabe rawit buat gue. Baik banget ya. Sekali lagi gue berusaha ngajakin si nenek dan cucunya buat makan bareng. Tapi lagi-lagi si nenek mencegah.

Yaudah akhirnya gue tetep makan. Tapi nggak sampe habis. Dari 1 ekor ikan yang dibagi jadi 8 potong, gue cuma makan 3 potong, selebihnya gue sengaja biarkan buat si nenek dan cucunya makan. “Bu, saya kenyang. Itu masih ada beberapa, buat ibu sama cucunya aja,” gue berpamitan sambil ngasih sedikit uang pengganti nasi dan minyak. Muka si nenek langsung berubah sumringah. Muka cucunya nggak sempet gue lihat, tapi kayanya lebih sumringah lagi.

Gue pun mengakhiri petualangan (atau keisengan) hari itu dengan puas. Dan di antara menu makan selama di Nias, menu barakuda darurat malam itu memang bukan yang paling enak, tapi justru yang paling nikmat.

 

Bonus:

 

 

 

December 20, 2012 2:03 pm
Should We Know This????

Should We Know This????

November 13, 2012 5:02 pm

special wedding gift from Kick Andy *speechless*

October 25, 2012 3:12 pm

if you really want to know, come on and join the show!

October 19, 2012 5:46 pm

Jahatnya Penyerapan

Akhir tahun gini, biasanya sodara-sodara sekalian yang kerja di pemerintahan bakal disibukkan dengan keluar-masuk hotel (tapi bukan hotel satu malam), atau terbang ke sana ke mari keliling Indonesia. Ada yang tau apa yang lembaga-lembaga pemerintahan itu kejar? Yak, penyerapan.

Menjelang berakhirnya tahun anggaran, semua lembaga pemerintahan apapun wujudnya – kementerian, badan, dewan, dinas, unit, kelompok, djawatan, paguyuban, atau apalah itu – pasti ngejar agar penyerapannya sesuai dengan target.

Gue pernah bertanya pada seorang temen, PNS yang udah cukup senior. Apakah bermasalah kalo misalnya sebuah proyek semua tujuannya terlaksana dengan baik, pembangunannya beres dengan kualitas bagus, tapi penyerapannya nggak banyak? Anggeplah cuma 50 atau 60%. Dalam pikiran gue yang awam tentang birokrasi ini, kalo itu kejadian berarti itu adalah prestasi. Sebuah hal positif. Karena pekerjaan berhasil dengan mengefisienkan anggaran. Tapi ternyata temen gue itu ngasih tau. Kalo sampe ada anggaran sisa dan enggak terserap, maka akan dipersoalkan. Namanya Sisa Anggaran Lebih (SAL), yang harus dipertanggungjawabkan ekstra serius di hadapan DPR dan BPK. Nggak peduli proyeknya berhasil. Nggak ada yang namanya prestasi karena udah bisa save more (people’s) money. Udah gitu, taun depannya lagi bakal dapet anggarannya maksimal sebesar yang bisa diserap.

Logika gue nggak bisa nerima aturan ini. Kenapa? Pertama, anggaran itu dibikin dengan skenario aman. Artinya, misalnya proyek pembangunan sekolah. Anggeplah harga semen di pasaran adalah 70 ribu per sak. Buat ngebangun sekolah itu butuh 80 sak. Biar aman, dianggarkanlah semen 100 sak dengan harga 100 ribu per sak. Ya emang harus gitu, daripada nanti semennya kurang atau dananya nggak cukup buat beli semen. Namanya juga antisipasi. Logikanya masih bisa gue terima sampe sini.

Selain adanya spare di tiap pos anggaran, akan ada juga yang namanya biaya tak terduga. Anggeplah 10 persen dari total anggaran (kalo proyek 5 milyar 10 persennya udah bisa buat beli rumah di BSD lho). Sekali lagi, ini logis. Karena emang buat spare atau antisipasi.

Nah yang nggak bisa gue terima adalah, ketika nantinya sekolah itu jadi dibangun dan ternyata yang dibutuhin adalah 80 sak semen sesuai dengan perhitungan awal (tanpa tambahan untuk antisipasi). Harga per sak semennya pun sesuai dengan itung-itungan minimalis, 70 ribu per sak. Nah, terus sisanya, biaya yang 30 ribu per sak ditambah yang dianggarin buat 20 sak seharga masing-masing 100 ribu itu dikemanain?

Sesuai dengan aturan di negara kita tercinta ini ya sodara-sodara, kalo emang dianggarin ya harus dipake. Balik lagi ke penjelasan di depan tadi, kalo sampe enggak kepake bakal dimasalahin sama para pengaudit. Juga biaya tak terduganya. Harus abis kepake. Jadilah yang terjadi segala cara digunakan, yang penting uang segitu itu habis.

Cara-cara yang jamak diambil adalah:

1. Bikin rapat di hotel: padahal rapatnya cuma 2 jam. Tapi dibikin jadi 2 hari dan pake nginep. Semua yang bertugas diinepin di hotel dan tentu saja dapet uang harian. Uang pun terpakai

2. Perjalanan dinas nggak jelas: judulnya perjalanan dinas. Dijadwalinnya pun 3 atau 4 hari. Tapi nyampe lokasi yang penting cuma rapat barang 1 atau 2 jam sama dinas di daerah, minta cap biar perjalanannya valid, dan waktu sisanya bisa dipake buat berwisata! Tentunya ada uang saku harian juga. Uang pun buanyaaak terpakai. Oh iya ssstttt.. Kalo udah akhir tahun dan ngejar penyerapan gini, satu orang yang sama (biasanya pejabatnya atau staff senior yang punya pengaruh) bisa jalan-jalan sampe 5 kali dalam sebulan. Ikutan duoonggg!

3. Bikin seminar/workshop: walaupun nggak ada seminar/workshop dalam lingkup kegiatan, tapi nggak jarang ini dilakuin. Pesertanya? PNS di kalangan sendiri dan mitra kerja aja. Sama kaya rapat di hotel, uang bisa mengalir buat nyangoni para peserta seminar dan bayarin akomodasi. Juga tentunya harus dialokasiin buat honor pembicara dong (Nggak jarang pembicaranya adalah atasan dari para peserta itu sendiri. Kenapa nggak diskusi di kantor aja yak?) Hihihi.

4. Mark-up nota pengadaan barang: nah ini yang busuk nih. Biasanya kongkalikong sama penyedia barangnya. Semacam “Koh, di kuitansinya tulis satunya seratus ribuan ya”. Sungguh Ter La Lu.

Nah, kalo udah kaya gitu yang terjadi, maka gue berasumsi bahwa dengan adanya sistem penyerapan ini, sama dengan pemerintahan kita berprinsip: EFISIENSI ADALAH PANTANGAN. Uang pajak Anda, berapapun banyaknya, harus kami habiskan. Nggak ada yang namanya iktikad buat menabung lebih banyak uang negara, biar bisa dipake buat yang lain. Bukannya Koran-koran dan tipi-tipi berita itu rame-rame bilang kalo belom semua masyarakat Indonesia nikmatin hasil pembangunan. Nggak ada salahnya kan kalo dana itu lebih baik dialokasiin biar mereka juga bisa kena manfaat pembangunan? Menurut gue lho yaaa.

Parahnya lagi kalo penyerapan dilakuin dengan cara yang busuk kaya mark up anggaran. Uang lebihnya kan masuk ke kantong si orang yang ngurusin itu. Wah kalo udah gini sama aja kaya korupsi yang terencana nggak sih? Atau mau pake bahasa “sistem anggaran yang koruptif”? Hmmm apapun deh.

Yak segitu dulu deh. Tulisan ini murni cuma pendapat pribadi gue aja. Yaa dengan pengetahuan yang terbatas. Silakan lho kalo mau komentar mendukung, menentang, nyinyir, nyonyor, atau apa aja deh. Rencananya, tulisan ini akan gue buat versi visualnya dalam bentuk animasi. Tunggu ya :D

October 3, 2012 4:35 pm

Medley Cashewnut: Harmoni Citarasa Kacang Mede

Lihat gambar kacang mede di atas? Hmmm.. Terlihat sangat lezat.. Memang, kacang mede adalah salah satu cemilan istimewa yang banyak disukai. Rasanya? Jangan tanya. Gurih, renyah, dan pastinya nagih! Bikin pengen lagi dan lagi. Apalagi kalo pas digigit dan gigitannya jatuh ke lidah. Nyammm.. Rasanya selangit!

Saking nikmatnya, kacang mede sampai dianggap sebagai cemilan yang premium. Premium di sini maksudnya tentu saja bukan bensin bersubsidi. Hehehe admin mulai garing nih. Maksudnya, kacang mede adalah cemilan yang punya nilai prestise. Makanya nggak mengherankan kalau di beberapa tempat harganya pun melambung.

Nah, liat gambar kacang mede di atas tadi, siapa yang jadi pengen ngemil kacang mede? Kalau memang pengen jangan khawatir. Karena kacang mede sekarang bisa didapatkan dengan mudah, yaitu dengan memesan kepada kami, medley cashewnut.


Yak, di atas tadi adalah penampakan dari kemasan medley cashewnut. Kemasannya menarik kan? Kenapa namanya medley? Ada maksud di baliknya. Sekali ngemil kacang mede ini, dijamin berlanjut terusss, kaya lagu medley. Bahkan lagunya itu berlanjut dalam berbagai genre musik. Hah maksudnya? Iya, medley cashewnut itu tersedia dalam berbagai “genre” alias berbagai rasa.

Nih cekidot rasa-rasanya:


Blues Barbeque

Kacang mede rasa barbeque dengan sensasi gurih dan spicy khas daging barbeque. Sangat cocok untuk dicemil di berbagai suasanya.

Nah yang barusan ini penampakan medley blues barbeque di balik kemasannya. Lihat tuh bumbu barbequenya, manggil-manggil buat segera dicicipin. Ayo buruan dapetin!

Chicken Choir

Pok pok pok.. Petok petok.. Kukuruyuk… Siapa sih yang nggak suka ayam? Ayam goreng, ayam opor, ayam bakar, sop ayam, sate ayam, hmmmm semuanya enak! Seolah-olah ayam adalah binatang terenak di muka bumi. Nah, aroma kaldu ayam yang lezat ini juga tersedia dalam varian medley Chicken Choir.


Lihat tuh kacang mede dengan rasa kaldu ayam. Siapa yang tertarik mencoba? Ayo keburu ayamnya kabur! Petok petok!!

Original Classic

Nah kalau yang satu ini original classic. Untuk Anda yang suka dengan rasa asli dari kacang mede. Tentu saja dari kacang mede pilihan ala medley cashewnut, dibumbui bawang untuk penguat rasa. Hasilnya, mede banget!

Dari fotonya aja udah kelihatan renyahnya kacang mede. Hmmmm ngiler ya? wajar kok. Hehehe.

orCHEESEthra

Siapa suka keju? Pasti akan suka juga dengan varian yang satu ini: orCHEESEthra. Kacang mede rasa keju. Butiran renyah kacang mede dan taburan keju saling berpadu membentuk orkestra yang akan menggoyang lidah Anda!

Ngemil mede rasa keju ini, paling asik kalau kejunya nempel di jari. habis itu, hisap kuat-kuat jarinya, dan slurrpppp.. Rasa khas keju pun meresap sampai ke pangkal lidah. Nikmatnya nggak terkira!

Ballad Balado

Nah kalau yang satu ini buat Anda pecinta pedas. Rasa khas bumbu balado yang pedas pedas asam gurih spicy membalut kacang mede memberikan sensasi yang ruarrrrrr biasssaaaaa!!!

Sssshhhh.. Haahhhhh.. Kebayang kan pedasnya Medley Ballad Balado ini? Pedes-pedes gini, seru banget buat dinikmati terus-terusan dan rame-ramean lho. Bareng teman, pacar, keluarga, atau siapa aja. Jangan lupa, kalau kepedesan, selain diminumin air, ambil juga medley varian lain sebagai penawar pedasnya. Kalau udah begitu, baru itu namanya medley. Terusssss mengalun tanpa henti.

Itu aja? Tentu saja enggak. Sayang dong kalau kemasan yang udah menarik ini dibiarkan kosong di belakangnya. Ini dia penampakan di sisi belakang kemasan medley cashewnut.Jreng jreng!

Apaan tuh? itu namanya medley trivia. Berisi ringkasan pengetahuan iseng tentang mede. Nah tiap trivia digambarkan dalam kartun si Memed. Si Memed ini adalah maskot darimedley cashewnut. Lucu kan?

Kartun Si Memed di Medley Trivia

Gimana gimana? Pada pengen? Pasti penasaran ya gimana buat dapetin mede yang bikin pengen ini. Gampang kok.

Tinggal reply post di blog medleycashewnut.blogspot.com

atau order lewat e-mail di medley.cashew@gmail.com

atau mention twitter kita di @medleycashewnut

atau sms ke 081320444413


Untuk area Menteng, Sarinah, Thamrin, Lap Banteng, Senen, Gambir, Tugu Tani, Monas, Manggarai, Tebet, Kuningan, Cassablanca, Kampung Melayu, Jatinegara, Cawang, Halim, Cililitan, Kramat Jati dan sekitar daerah-daerah tersebut, barang akan kita antar langsung ke tangan Anda (COD)

Untuk daerah lainnya, selama masih di Jakarta bisa kita sepakati untuk COD juga atau kirim aja via JNE. Luar Jakarta juga kirim via JNE ya. Ongkir ditanggung pembeli tentunya.

Oh iya, harganya? Murah kok. Cukup RP 8 ribu per pax.

Tertarik? Ayo dipesan :)

September 14, 2012 2:37 pm

Sekelumit Kisah Yudistira “Amir” Pratama

Gue jarang banget nulis tentang temen. Hampir nggak pernah malah. Tapi kali ini secara spesial (uhuk ehem) gue akan cerita tentang salah satu temen gue. Siapakah dia?

Jreng Jreng! nilah Dia

Sok-sokan misterius deh. Padahal di judul udah disebutin namanya dengan font gede-gede. Hahaha. Yak, beliau inilah yang akan gue ceritakan dalam tulisan kali ini. Yudistira Pratama nama lengkapnya. Tapi biar gampang, panggil saja dia Amir (bukan nama sebenarnya).

How come? Gimana ceritanya nama Yudistira Pratama bisa dipanggil Amir? Komik di bawah ini jawabannya.

Begitulah. Sejak saat itu, resmilah namanya berubah. Dosen-dosen pun sampe nggak kenal siapa itu Yudistira. Tapi begitu disebut nama Amir, seantero staf pengajar pun langsung paham, “Oh Si Amir”.

1. Lupa Jati Dirinya

Saking udah terbiasa dipanggil dengan nama yang bukan nama sebenarnya, Si Amir sampe lupa sama jatidirinya sendiri. Maksudnya, dia sering lupa sama nama aslinya.

Siang itu di sebuah warung nasi timbel paling terkenal se Kota Bandung, kita datang berbondong-bondong udah kaya FPI mau bikin keonaran. Di sini, kita nyaksiin sendiri gimana kasihannya seorang teman SMA Amir yang nggak digubris padahal udah teriak-teriak manggilin “Yudis! Yudis!” berkali-kali.  Amir sih ngakunya denger panggilan itu. Tapi dia bilang nggak ngeh kalo temennya itu manggil dia. Nah!

Cerita lain, pas waiting list di salah satu rumah makan, Amir inisiatif pesen pake nama Yudistira. Alhasil, pas nyampe giliran kita dan si mbaknya manggilin Yudistira, si Amir nggak bergeming sedikitpun.

2. Sopir Angkatan

Jahat sih ngatain Amir sopir angkatan. Tapi kayanya dia apes dapet temen-temen yang kurang ajar, yang manfaatin dia (dan mobilnya) sebagai sarana transportasi milik angkatan. Ke manapun kita pergi, entah itu cuma ke rumah makan sebelah kampus sampe ke luar kota yang perjalanannya berjam-jam, (mobil) Amir lah andalannya. Tapi untungnya, Amirnya juga seneng-seneng aja kok.

3. Bercelana Panjang!

Amir selalu bercelana panjang, di manapun berada. Baik di kampus, di mal, di jalan, lagi nyetir, di kolam renang, di pemandian air panas, bahkan di pantai!

Pernah kita rame-ramean berendem ke Ciater. Amir yang nyetir (seperti biasa). Nyampe ke Ciater, kita langsung bayar tiket masuk dan berjalan ke arah kolam air panas. Di sini mas-mas penjaga pintunya nawarin kita minum, “mau soft drink apa mas?” satu persatu dari kita ngejawab. “fant*, cocacol*, spri*e” dan sebagainya. Tibalah giliran Amir. Si mas mengulang pertanyaannya. “Soft drinknya mau apa mas?” dengan mantap Amir menjawab, “Kopi Susu!”

Ulah Amir nggak berhenti sampe di situ. Saat kita semua udah nyebur, Amir cuma duduk-duduk di pinggir kolam. “Mir nyebur sini”, ajak kita. Jawabnya, “Sok aja, gua nggak bawa celana pendek”. Lah, perasaan tadi dia sempet pulang dulu ambil ganti. Tapi malah yang dibawa celana training. Ini mau berendem Mir, bukan senam.

Puas berendem, jam 4 subuh kita pulang. Udah hampir pagi, dan kita keenakan berendem air panas, udah pasti ngantuk kan tuh. Akhirnya pun bisa ditebak. Amir nyetir sendirian, sementara seluruh penumpangnya (yang terdiri dari teman-temannya yang kurang ajar itu) tertidur lelap. Yak, Amir bayar tiket Ciater cuma buat nyetirin begundal-begundal sialan ini.

Cerita serupa kejadian di Ujunggenteng. Namanya main ke pantai, biasanya sih main air. Eh tapi terus terjadilah adegan yang unpredictable dan mustahil ada di sinetron (kecuali sinetronnya Indos*ar). “Mam, bawa celana pendek berapa? Pinjem satu dong. Gua nggak bawa nih”, bilangnya ke gue. Lagi-lagi, yang dibawa Amir adalah celana training andalannya. Mungkin dia nyangkain kita ke Ujunggenteng buat ikutan pelatnas atletik.

Oh iya, saat di Ujunggenteng ini (dan juga di setiap trip ke luar kota yang pake nginep), Amir hampir nggak pernah mau tidur di kasur penginapan. Di mobilnya dia selalu sedia matras yang setia jadi alas tidurnya di setiap perjalanan. Entah kenapa Amir begini, nggak ada yang tau.

4. Misterius!!!!

Misteri Amir bakal gue kupas tidak tuntas di sini. Bukan cuma misteri celana training dan matras andalannya. Tapi juga kehidupannya sendiri. Sebagai temen, Amir termasuk yang banyak jalan sama kita (ya iyalah, kalo nggak ada Amir kita naik apa? *lho!*). Tapi nggak ada yang tau kehidupan pribadinya. Apalagi soal keluarganya.

Kita seangkatan 94 orang. Tapi tebak, berapa orang yang tau tanggal kelahiran Amir? Satu orang! Yak satu. Itupun hasil dia nggak sengaja liat SIMnya Amir. Tapi dari situ terus jadi banyak yang tau tanggal sesungguhnya Uutah Amir. Walaupun tetep nggak banyak-banyak juga sih.

Nggak cuma tanggal lahir. Dari kita seangkatan, nggak ada yang tau di mana rumah Amir. Dia cuma bilang rumahnya di Kopo. Tapi nggak ada yang tau persis di sebelah mananya. Bahkan Amir seolah-olah nggak mau ada yang tau di mana rumahnya.

Waktu tingkat satu, mobil Amir rusak. Dia pun pulang nebeng salah satu temen yang rumahnya sama-sama di Kopo. Eh tapi anehnya si Amir cuma mau dianter sampe gerbang kompleks. Selanjutnya dia jalan kaki. Padahal kompleksnya itu luas lho.

Pernah Amir nganterin gue ke stasiun buat pulang kampung. Tapi gara-gara macet, kita pun ketinggalan kereta. Karena nggak mau nyusahin Amir dengan minta dia muter balik ke tempat gue dan kejebak macet lagi, gue pun inisiatif bilang, “nginep tempat lo aja deh Mir”, dan jawabannya, “jangan Mam. Gua anter pulang aja ke kosan”. Oke, gue cuma bisa nurut.

Penasaran, gue buka database mahasiswa seangkatan. Eh di situ tertulis alamat Amir bukan di Kopo seerti yang dia selalu akuin. Tapi di Sawah Kurung. Ini udah mulai nggak bener.

Makin nggak bener lagi, nggak ada yang tau keluarga Amir. Siapa dan kaya gimana orang tuanya, pekerjaan mereka apa, dan sebagainya. Nggak pernah ada yang tau. Bahkan sampe detik ini. Amir pernah ngaku bahwa bokapnya kerja di Jakarta. Tapi tiap ada urusan di Jakarta, nggak pernah ada gelagat dia ketemuan sama bokapnya. Pernah juga Amir ngaku bahwa dia adalah cucu dari seorang profesor yang saat itu ngejabat sebagai wakil rektor. Awalnya gue percaya, tapi kemudian seorang temen yang lain bilang bahwa sang profesor adalah temen seangkatan nyokapnya. Jadi nggak mungkin cucunya udah seumuran Amir. Gue sempet berhipotesa bahwa pak profesor ini adalah bapaknya Amir yang sesungguhnya. Masuk akal kan. Tapi ternyata bukan juga.

Waktu Amir wisuda, kita semua penasaran kaya gimana sih orang tuanya Amir. Ternyata kita harus kecewa sodara-sodara. Kita sedikitpun nggak melihat batang hidung orang tua Amir di acara bahagia tersebut.

Misteri ini belum ketemu jawabannya sampe sekarang. Sampe temen-temen pun bikin hipotesa yang macem-macem.

S (inisial) berhipotesa: Amir itu tau nggak kenapa dia tajir? Rumahanya itu pabrik narkoba itu. Makanya kita nggak ada yang boleh tau rumahnya. Ntar takut kita laporin polisi! (dengan logat batak yang khas).

J (insial dari nama yang bukan nama sebenarnya) berhipotesa: Orang tuenye si Amir itu ude cerai, terus idup masing-masing. Si Amir ditinggal idup sendirian aje. Dikasih duit, dikasih rumah, dikasih mobil. Terserah mau lo pake buat apa ye kan. (yang ini pake logat betawian).

S (lagi) berhipotesa: Amir dateng dari planet lain itu. Kalo nyampe rumah dia balik ke wujud aslinya. Makanya kita nggak boleh liat. (logatnya tetep khas)

B (inisial jugak) berhipotesa: Amir itu pembantu di keluarga kaya cui. Tapi untung majikannya baek. Jadi dia disekolahin di ITB. (sambil medhok).

Dia-Yang-Namanya-Tak-Perlu-DIsebut berhipotesa: Di Kopo ada kuburan angker nggak sih? atau rumah berhantu?

Wallahualam. Entah hipotesa mana yang bener. Tapi di akhir tulisan yang bacanya bikin capek ini, gue mau nyampein berita bahagia. Hari ini, Jumat 14 September 2012, Amir bakal berangkat ke Belande! Dia dapet beasiswa S2 di sana! WOW! Yuk penongton, eh pembaca, kita sama-sama doain buat kesuksesan Amir di masa depannya nanti. Ati-ati dan baek-baek di sana Mir. Kita semua bakal kangen sama kemurahan hati dan tentunya kemisteriusan lo.

SELESAI.

(epilog)

Kita masih sangat penasaran sama Amir. Sampe ada wacana buntutin dia ke bandara saat berangkat. Ya buat sekedar liat seperti apakah wujud orang tua yang akan melepas keberangkatan Amir. Masa sampe anaknya berangkat buat ninggalin negara selama 2 tahun pun orang tuanya nggak dadah dadah?

Tapi rencana ini kayanya tinggal wacana, dan cuma menghasilkan satu hipotesa baru: Di bandara nanti, Amir bakal dorong trolinya sampe nabrak pilar gede di bandara, dan dia pun hilang dari pandangan.

*terdengar suara burung hantu dan OST Harry Potter pun berkumandang*

June 19, 2012 4:31 pm
pengumuman di pintu WC kantor

pengumuman di pintu WC kantor

May 3, 2012 6:27 pm

Kita dan Etika

Suatu pagi di ruas jalan Jatinegara Barat. Seorang ibu berdiri di zebra di tepi jalan, di sisi timur. Rambutnya yang disanggul kecil ke belakang. Kedua tangannya menenteng keranjang belanjaan berisi sayur mayur.

Seperti pagi-pagi biasanya, lalu lintas pagi itu ramai. Kendaraan berderet melaju dari arah selatan di ruas jalan satu arah tersebut, baik di jalur kiri maupun di jalur kanan. Perlahan kakinya terayun menuju menjejak garis-garis zebra cross, menuju seberang jalan. Tangannya melambai meminta jalan ke arah kendaraan yang tetap melintas kendati lampu lalu lintas tengah menyala merah. Penuh susah payah, si ibu berhasil melintasi separuh jalan. Kini ia berdiri di tengah jalan, tepat di pembatas antara jalur kanan dan jalur kiri. Ia bersiap menuntaskan separuh penyeberangannya. Tiba-tiba lampu lalu lintas berganti hijau. Ia tak memedulikannya. Kakinya tetap melangkah menyusuri zebra cross. Sontak terdengar decit rem sepeda motor yang berpadu dengan teriakan si ibu. Detik berikutnya. si ibu sudah jatuh terduduk di aspal jalan. Keranjang yang ia bawa berikut isinya berhamburan.

Seorang yang kebetulan berada di lokasi memapah si ibu menuju tepi jalan – titik yang semula ditujunya. “Lain kali kalau nyeberang tunggu lampunya merah dulu, bu” ujarnya. Masih sambil meringis menahan sakit pada tangan dan pinggulnya, si ibu menjawab, “yee, tadi di sono lampu merah juga masih pada jalan aje”.

———-

Tak seperti hari Minggu pada umumnya, sore itu jalan Bintaro Permai luar biasa macetnya. Di kala antrean kendaraan semakin mengular, peringatan perlintasan kereta api berbunyi. Palang pintu pun berangsur menutup. Beberapa kendaraan – terutama sepeda motor dan mikrolet – nekat menerobos palang pintu yang belum menutup sempurna. Setelah tertutup sepenuhnya pun, beberapa sepeda motor masih menantang maut dengan melewati celah kecil di sela-sela palang pintu yang menutup. Namun di antara sekian banyak sepeda motor, ada satu tetap bertahan. Nampaknya ia ingin menghapus citra buruk pesepeda motor yang sering diidentikkan dengan hobinya melanggar lalu lintas. Kedua kakinya masih menapak di aspal jalan, menahan laju sepeda motornya. Hingga suatu ketika, sebuah sepeda motor lainnya melintas di sisi kanannya, dan sang pengendara menghardiknya, “Terobos dong woi! Bego lo”. Hardikan ini diamini seorang pria yang sedang berjalan kaki, “Jalan! Jalan! Terobos!” lugasnya.

———-

Namanya jalan Panjang. Jalannya pun betul-betul panjang. Membentang dari Kebon Jeruk hingga Gandaria, dan dilanjut dengan jalan sama bernama beda – Jalan Arteri Pondok Indah. Jalan yang panjang ini terasa lebih panjang lagi jika kemacetan menyergap, seperti yang terjadi di jalan itu setiap sorenya.

Sore itu, kemacetan menggila di jalan Panjang. Sepeda motor yang biasanya piawai nyelip-nyelip di antara kendaraan pun mati kutu. Tak kuasa bersabar lebih lama lagi, beberapa pengendara sepeda motor mengarahkan setangnya ke trotoar. Mereka lompati , trotoar, dan kini sejumlah sepeda motor tengah melaju di atas trotoar, Di depan sana, saat jalanan sudah berangsur sepi, mereka kembali menurunkan sepeda motornya ke arah jalan. Begitu terus berulang sepanjang perjalanan mereka di jalan panjang.

Di satu titik, di sekitar traffic light Kebon Jeruk, seorang ibu tengah berjalan santai di trotoar. Sungguh terkejut sang ibu, tiba-tiba sederetan sepeda motor mengkudeta jalannya. Hampir terserempet, ia refleks mendorong badannya ke belakang. Seorang pesepeda motor membuka kaca helmnya, menengok ke arah sang ibu, dan menghardiknya, “Liat-liat dong woy!”

———-

Bapak itu memacu sepeda motor maticnya menyusuri jalan Gatot Subroto. Wajahnya terlihat lelah setelah bekerja seharian. Terbayang di benaknya senyum ceria sang anak yang akan menyambutnya di pintu rumah nanti, menjadi pengobat lelahnya hari itu.

Situasi jalan hari itu merayap. Semakin mendekati fly over Kuningan, lalu lintas semakin padat. Mobil-mobil beriringan, bergerak perlahan semeter demi semeter. Di antara iring-iringan itu, sebuah mobil sedan bercat merah tertahan di lajur kiri. Di depan sana, traffic light sedang menyala merah, menahan mereka yang berjalan di lajurnya. Tak sabaran, sang pengemudi sedan merah membanting setirnya, hingga mobilnya kini berada di lajur kanan yang lebih lengang. Selang beberapa puluh meter, dilihatnya lajur kiri di depannya sudah lebih lancar. Diintipnya traffic light, oh sudah hijau rupanya. Ia pun teringat tujuannya, berbelok kanan di traffic light ke arah Warung Buncit. Kembali dibantingnya setir ke arah kiri, masuk ke lajur sebelumnya. Sontak, bunyi klakson pun bersahutan, dibunyikan oleh mereka yang merasa jalannya terinterupsi oleh manuver sang pengemudi sedan merah.

Di antara kendaraan yang tertahan oleh aksinya berpindah-pindah lajur tersebut, salah satunya adalah si bapak bersepeda motor matic. Kurang sigap, setangnya menghantam bagian samping sedan merah yang tetap melaju kendati paduan suara klakson kendaraan tak henti menghujatnya. Benturan tak terhindarkan. BRUK! Tak sampai sedetik, si bapak sudah terduduk di aspal, meringis kesakitan. Sementara sepeda motornya terkapar 5 meter darinya, setangnya bengkok. Sang pengemudi sedan merah tergopoh-gopoh keluar dari mobilnya, menghampiri si bapak, menawarkan pengobatan. Pengemudi lain di belakangnya menimpali dengan sahutan klakson yang lebih kencang, dan umpatan.

———-

Lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman pagi itu ramai lancar. Lepas dari Semanggi arah ke Blok M, tampak sebuah mobil menepi masuk jalur lambat di depan Polda, menuju akses masuk kawasan SCBD. Sebelum berbelok masuk SCBD, sang pengemudi menepikan kendaraannya. Pintu belakang mobil terbuka, dan keluarlah seorang perempuan. Ia mengenakan kaos hijau dengan celana jeans selutut dan sandal jepit melindungi kakinya. Rambutnya kering merah terbakar matahari. Setelah mobil yang tadi menggunakan jasanya berlalu dan masuk ke kompleks SCBD, ia berniat untuk segera menjaring pelanggan lain, di seberang jalan sana.

Tak dihiraukannya jembatan penyeberangan yang hanya berjarak sekitar 10 meter di sisi kirinya, ia memilih untuk menantang lalu lintas pagi itu dengan berlari menyeberangi jalan protokol ibukota tersebut. Jalur lambat telah berhasil ia seberangi. Kini ia bersiap kembali berlari membelah jalur cepat. Sekencang mungkin ia berlari, namun naas. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, sebuah mobil yang melintas kencang menghantam tubuhnya. Maut datang menghampirinya pagi itu.

———-

Mari berkaca.

April 3, 2012 11:35 am

Ngeyel Karena Benar

Suatu siang, saya berjalan kaki di trotoar sebuah jalan utama di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dalam perjalanan, saya melewati rumah dinas duta besar sebuah negara maju. Namanya duta besar, rumah dinasnya pun besar. Namanya negara maju, pos penjagaannya pun maju, menjorok sampai memakan space trotoar. Saya yang sedang berjalan kaki di trotoar jadi terhalang. Tapi saya cuek, saya terus saja melewati pos penjagaan yang berdiri dengan angkuhnya di atas trotoar itu. Ternyata sang petugas menegur saya

Petugas: Maaf pak, dilarang lewat sini

Saya: Lho? Kenapa pak?

Petugas: Aturannya begitu pak

Saya: Ya maksud saya kenapa sampe ada aturan begitu?

Petugas: Ya memang seperti itu pak

Saya: (mulai males membahas asal muasal peraturan yang mungkin turun dari langit ini) Nah terus saya lewat mana dong pak?

Petugas: Silakan lewat situ pak (menunjuk bahu jalan)

Saya: Lha masa lewat situ pak? Itu mah jalan, yang lewat situ kendaraan. Kalo pejalan kaki lewatnya trotoar.

Petugas: Iya tapi lewatnya situ saja pak.

Saya: Ya kalo saya jalan di situ bisa ketabrak mobil lewat pak, makanya ada aturan pejalan kaki lewatnya trotoar. Nggak turun dari langit. Sebaliknya kendaraan juga nggak boleh naik ke trotoar.

Petugas: Iya tapi maaf pak, tidak boleh lewat sini

Saya: Saya kalo lewat sini nggak dibolehin sama bapak. Kalo lewat situ (bahu jalan) ngelanggar aturan yang ditetapkan pemerintah. Terus masa saya harus manjat pohon buat lewat?

Petugas: Lewat situ saja pak (kekeuh nunjuk bahu jalan)

Saya: (males sama jawaban yang itu lagi itu lagi, ngeloyor ngelewatin pos penjagaan)

Petugas: Pak! Pak!

Saya: (melenggang pergi tanpa menghiraukan sang petugas)

Mau tertib aja susah.. Malah disuruh ngelanggar aturan.